Mengapa kamu berdoa?

Karena aku yakin doaku didengar oleh Bapaku

Advertisements

Seperti smartphone yang tak di-charge

Sabtu kemaren ngumpul lagi sama wanita wanita ekspresif  siapa lagi klu bukan KTB Integrity, setelah sekian lama.

Ekspresifff?

Yups…. semua terinfeksi virus ekssspresiff

Membaca riwayat kasus pembunuhan berencana yang dilakukan Daud terhadap prajurit setia yang bernama Uria. Seperti berlakon dalam drama.

Jahat!

Jahat!

Jahat!

Tuhan jahat banget raja ini.
Marah dalam hati terwujud dalam ekspresi ketika membaca ayat Alkitab sesuai kasus ini.
Ekspresi yang  malah membuat siribing yang bermuram durja, melunjak tiba- tiba tertawa kuat.
Kembali ke topik, PEMBUNUHAN BERENCANA Oleh Raja Israel terhadap seorang prajurit setia, Uria orang Het itu.
Siapa yang tak kenal King David, orang yang diurapi Allah
Siapa Daud? Dia adalah penulis Mazmur  yang sangat terkenal . Termasuk mazmur  favourite saya, Maz 23, Tuhan adalah gembalaku.

Semalam, Minggu 26 Juni kotbah di Gereja juga adalah dari Mazmur yang ditulis oleh Daud Maz 16
Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”( Maz 16:2)

Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.(Maz 16:8)

langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidak goyang.(Maz  17:5)

Serohani inilah dia, luar biasa kan? Tapi raja inilah yang merancang trik pembunuhan berencaana terhadap prajurit setianya.

2 Sam 11:1-17,27 ( Daud yang tergoda )
Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem.
Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.
Hati hati ketika kita lari dari tugas atau tanggung jawab yang seharusnya siiblis sudah siap dengan tawaran yang menggoda.Raja Daud harusnya memimpin pertempuran bukan bersantai ria di sotoh.
Pliss dehh ribing jangan tanya kenapa Batsyeba musti mandi tepat di bawah sotoh
Daud bukannya hilang ingatan atau tak mengenal Tuhan, Daud yang sama yang menuliskan Mazmur 16. Dia tergoda dan jatuh dalam perbuatan jahat.
Daud yang punya pengenalan yang kuat akan Allah, Daud yang telah berpengalaman dengan Allah, Daud yang percaya kepada Allah tetaplah manusia, rentan.
Daud marah ketika Goliat orang Filistin menghina TUHAN dan menunjukkan bagaimana keyakinannya akan  TUHAN.
TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.

Dosa melahirkan dosa. Sejak Daud melihat istri orang kemudian memanggilnya, melakukan perzinahan, trik tipuan hingga pembunuhan berencana.
Hingga akhirnya Daud ditegur Tuhan melalui Nabi Natan (2 Sam 17:7-14 )
“Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon”

Bukankah Daud sangat marah terhadap orang yang menghina Tuhan?
Tidak jadi jaminan tingkat kerohanian yang menyebabkan seseorang imun terhadap dosa.
Seperti smartphone yang mempnyai banyak fitur, banyak aplikasi tanpa daya listrik bukanlah sesuatu yang berguna. Seperti smartphone yang tak di-charge begitulah hidup seorang yang telah lama mengenal, bahkan berpengalaman dengan Tuhan, atau seorang rohani tanpa Daya dari Tuhan.

Dia  menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya

Seperti domba manusia sering hidup menurut kebiasaanya. Bila dibiarkan sendiri mereka akan selalu menempuh jalur yang sama sampai jalur itu menjadi jalur setapak yang cekung karena terlalu sering dinjak-injak; mereka makan rumput di bukit yang sama sampai sampai bukit itu menjadi gundul; mereka mencemari tanah di mana mereka berada sampai tanah itu terpolusi penyakit dan parassit. Di dunia ini ada banyak padang rumputyang sudah begitu rusak sampai-sampai tidak dpat diperbaiki lagi-rusak karena dilalap habis oleh domba-domba, karena tidak dikelola dengan baik, karena sipemilik domba bersikap masa bodoh atau tidak berpengetahuan.

Bila seseorang bepergian ke Negara-negara seperti Spanyol. Yunani, Mesopotamia. Afrika Utara. Bahkan beberapa tempat di bagian barat Amerika Serikat dan New Zeland atau Australia, ia akan dapat melihat kerusakan yang disebabkan oleh domba-domba di situ. Beberapa daerah di negara-negara itu yang dahulu merupakan padang rumput yang produktif lambat laun menjadi tanah gundul yang rusak- karena pengelolaan yang buruk mengakibatkan daerah itu menjadi gersang dan terbengkalai.

Tanah peternakan yang pertama sekali saya beli  ketika saya masih muda ialah sebidang tanah gundul yang merupakan sudah habis dilahap domba. Sebelumnya si pemilik tanah menyewakan tanah itu kepada seseorang. Ternyata sipenyewa hanya menjejal peternakan itu dengan domba dengan membiarkan domba-dombanya hidup sendiri. Akibatnya tanah itu menjadi gersang dan rusak. Rerumputan sudah habis dilahap yang tinggal hanya sedikit dan kualitasnya rendah. Jalur yang dilewati domba-domba itu sudah amblas menjadi seperti selokan erosi mengikis lereng lereng tanah secara tak terkendali; parahlah kerusakan  tanah peternakan itu.

Semua itu terjadi karena domba-domba itu  tidak dipelihara dan ditangani dengan penuh perhatian, tetapi dibiarkan berjuang hidup sendiri, mengambil jalannya sendiri, dan dibiarkan menuruti kebiasaanya yang menimbulkan kerusakan.

Sebagai akibat dari ketidakpedulian itu kawanan domba melahap rerumputan sedemikian rupa sampai-sampai akar rerumputan itupun menjadi rusak. Dibeberapa tempat di Afrika saya melihat akar-akar rerumputan itu pun rusak. Di beberapa tempat di Afrika. Saya melihat akar-akar rerumputan mencuat keluar dari dalam tanah, menjadikan tanah itu gersang. Hilanglah kesuburannya.tanah itu kemudian menjadi semakin rusak  oleh erosi.

Karena tingkah laku doma-domba itu dan karena mereka mempunyai tempat-tempat favorite tertentu, tanah yang sudah rusak itu penuh dengan berbagai macam parasit. Dalam jangka waktu yang singkat, seluruh kawanan domba dapat terkena penyakit cacingan dan penyakit kulit.  Pada akhirnya tanah peternakan itu dan si pemiliknya menderita  kerugian sedangkan domba-dombanya menjadi kurus dan sakit-sakitan.

Gembala yang penuh perhatian waspada terhadap hal tersebut. Bukan hanya demi kesejahteraan  domba-dombanya, dan demi kesuburan tanahnnya, melainkan juga demi dirinya sendiri dan demi nama baiknya sebagai peternak, ia harus sigap mengambil langkah-langkah pencegahan supaya kawanan domba tidak dibiarkan melakukan kebiasaan-kebiasaan  yang merusak dan membahayakan.

Langkah pencegahan yang paling utama ialah membawa kawanan domba dari satu padang ke padang yang lain. Dengan perkataan lain, mereka tidak dibiarkan terlalu lama di suatu padang rumput. Secara berkala, mereka harus digiring ke padang yang lain. Ini  akan menghindari habisnya rumput disuatu tempat; juga menghindari terbentuknya jalan setapak dan erosi tanah. Ini juga mencegah domba-domba terjangkit parasit  ataupun penyakit.

Pendek kata, harus ada rencana yang pasti dari satu padang ke padang rumput yang lain. Ini sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan yang baik. Seperti itulah tepatnya tindakan dan ide Daud ketika ia berbicara tentang perkara dituntun di jalan yang benar.

Menurut rencana yang tepat bagaimana mengelola peternakan domba-di sinilah letak rahasia memiliki ternak yang sehat dan tanah yang sehat. Ini kunci keberhasilan mengelola sebuah peternakan. Reputasi  sipemilik kawanan domba tergantung pada seberapa efektif dan efisiennya ia melakukam pekerjaanya, berpindah-pindah ke padang yang baru dan segar. Orang yang menuntun domba-dombanya dengan cara seperti itu pasti akan berhasil.

Mengenang masa lalu ketika saya bertahun-tahun memelihara kawanan domba dari padang rumput yang satu ke padang rumput yang lain adalah hal yang paling perlu diperhatikan. Praktisnya hal tersebut merupakan keputusan utama yang harus saya ambil. Tiada hari tanpa mengamati padang rumput di mana kawanan domba saya sedang mengunyah dan mengunyah. Saya memperhatikan keseimbangan anatara rumput yang baru tumbuh dengan rumput yang dikonsumsi domba-domba itu. Begitu saya merasa ada ketidakseimbangan, saya mengiring mereka ke padang rumput lain yang masih segar. Ini berarti hampir setiap minggu mereka dipindahkan ke padang yang baru. Secara keseluruhan keberhasilan yang saya raih dalam beternak domba merupakan hasil kepedulian saya memindahkan kawanan domba dari satu padang rumput ke padang rumput yanga lain.

Prosedur yang sama berlaku bagi kawanan domba yang digiring  ke bukit-bukit pada musim panas oleh peternak keliling. Hampir setipa hari mereka sengaja mengiring kawanan dombanya ke padang rumbput segar yang berbeda-beda. Sebelumnya mereka sudah membuat rencana tertentu  ke padang rumput mana saja mereka membawa domba-domba itu supaya domba-domba itu tidak makan rumput terlalu lama atau terlalu sering di satu tempat. Beberapa gembala mendirikan tenda di suati tempat; dari situ ia mengiring kawanan dombanya ke padang rumput yang baru setiap hari.

Pengetahuan sipemilik ternak terhadap setiap jungkal dari padang rumputnya merupakan  merupakan bagian dari keseluruhan konsep pengelolaan peternakan. Sudah berkali-kali ia menjejali padang rumputnya. Ia mengetahui apa kelebihan dan kekurangannya. Ia mengetahui di mana kawanan dombanya kan tumbuh sehat dan dimana kualitas rumput kurang baik.

Yang perlu disebutkan di sini; setiap kali si gembala membuka pintu menuju padang rumput yang baru, domba-domba itu kegirangan. Sewaktu mereka melewati pintu pagar  domba betina yang pendiam itu sering kali melonjak-lonjak senang –hendak mendapat rumput yang segar. Betapa girangnya mereka digiring ke tempat yang baru!

Sementara kita menelaah apa sangkut paut tema ini dengan manusia, kita akan terheran-heran melihat adanya beberapa persamaan. Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, bukan suatu kebetulan bila tuhan menyebut kita domba. Pola tingkah laku dan kebiasaan hidup kita mirip sekali dengan  tingkah laku dan kebiasaan hidup seekor domba-cukup memalukan.

Pertama-tama, firman Tuhan menunjukkan bahwa kebanyakan dari kita tegar tengkuk dank keras kepala. Kita lebih suka menuruti khayalan kita sendiri dan mengambil jalan sendiri. “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalanya sendiri”(Yes 53:6a). Ini  kita lakukan dengan sengaja, berkali-kali, walaupun merugikan diri sendiri. Ada sesuatu yang mengikutsertakan Tuhan. Dan ini tentu menghancurkan manusia itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan keangkuhan dan sifat sok benar sendiri. Kita bersikeras menganggap kita tahu apa yang terbaik bagi kita sekalipun kita jelas melihat akibatnya adalah petaka.

Sama seperti domba-domba yang secara buta sudah terbiasa membuntuti satu sama lain disepanjang jalur yang itu-itu juga sehingga jalur itu menjadi seperti selokan, begitu pula manusia terus menerus melakukan kebiasaaan yang menghancurkan kehidupan orang lain. Mengambil “jalan sendiri” berarti melakukan kemauan diri sendiri. Itu menunjukkan bahwa manusia merasa bebas untuk ngotot mengutamakan keinginannya sendiri dan melaksanakan gagasannya sendiri. Ini tetap dilakukannya meski dia sudah mendapat peringatan.

Dalam Amsal 14:12 dan 16:25 tertulis  ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.

Sebaliknya, Kristus- Gembala yang baik  dan datang dengan lembut dan berkata, “Akulah jalan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalaun tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”( Yoh10:10)

Masalahnya, kebanyakan diantara kita tidak mau datang, kita tidak mau mengikut Dia. Kita tidak mau dipinpin di jalan kebenaran. Ini bertentangan dengan sikap alamiah kita. Kita lebih suka mengambil jalan sendiri walaupun ini membuat kita tertimpa kesusahan.

Domba yang bandel, yang bersikukuh dengan kemauannya sendiri saja, yang angkuh, yang merasa mampu sendiri yang bertahan menempuh jalan yang lama, yang makan dari tanah yang sudah terpolusi akan menjadi setumpukan tulang di tanah yang sudah rusak. Dunia ini penuh dengan orang orang seperti itu. Keluarga berantakan, hati hancur, kehidupan yang sia-sia dan kepribadian yang tak stabil mengingatkan kita akan orang-orang yang mengambil jalanya sendiri. Masyarakat kita sakit, berjuang di tanah yang sudah rusak. Ketamakan dan keegoisan manusia  menimbulkan kehancuran dan penyesalan belaka.

Ditengah tengah kekacauan dan kemelut ini Kristus-Gembala yang Baik-datang dan berkata, “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mar 8:34). Tetapi kebanyakan kita, walau sudah menjadi orang Kristen, tidak mau melakukan hal itu. Kita tidak mau menyakal diri, tidak mau melepaskan hak kita dalam mengambil keputusan sendiri- kita tidak mau mengikut Dia-kita tidak mau dipinpin.

Tentu saja, kebanyakan dari kita kalau dikatakan seperti itu akan menyangkal. Dengan sengit kita menegaskan bahwa kita “dipinpin Tuhan”. Kita bersikeras mengatakan bahwa kita akan ikut ke mana pun Dia memimpin kita. Kita menyanyikan lagu tentang hal itu dan menyetujui gagasan tersebut. Tetapi pada saat kita betul-betul dipimpin di jalan yang benar hanya ada sedikit yang mengikuti jalan itu.

Sesungguhnya ini merupakan persimpangan-seorang Kristen akan berjalan terus bersama Tuhan atau ia akan berbalik, tidak lagi mengikut Dia.

Ada banyak orang Kristen yang mengutamakan kehendaknya sendiri, semau gue dan bersikap masa bodoh terhadap kehendak Tuhan. Mereka tidak dapat dikategorikan sebagai pengikut Kristus. Hanya ada sedikit yang menjadi murid Kristus dan yang meninggalkan segalanya demi mengikut Tuhan.

Yesus tidak pernah meremehkan “harga” yang harus kita bayar untuk mengikut Dia. Ia malah nyata-nyata sudah mengutarakan  bahwa mengikut Dia sama dengan menyangkal diri. Ini melibatkan serangkaian sifat dan sikap yang baru. Ini bukan cara yang biasa untuk hidup, dan justru harga inilah yang menjadi penghalang bagi banyak orang untuk mengikut Dia.

Singkatnya. Tujuh sikap baru harus kita miliki. Ketujuh sikap itu yang membuat anda maju bersama Tuhan. Kalau anda memilikinya, anda menemukan padang rumput yang segar, kehidupan yang baru dengan segala kelimpahannya, kesehatan yang semakin baik, keutuhan, kekudusan selama berjalan bersama Tuhan. Tiada yang lebih menyenangkan Dia dan tentu tidak ada hal terbaik yang dapat kita lakukan selain hal yang bermanfaat bagi sesama di sekitar kita.

  1. Dari pada mengasihi diri sendiri lebih dari segalanya, saya bersedia mengasihi Kristus lebih dari segalanya, dan mengasihi sesama dari pada mengasihi diri sendiri. Dari sudut pandang Alkitab, kasih bukan suatu perasaan yang lembek dan sentimental. Kasih merupakan suatu tindakan sengaja atas kehendak saya sendiri. Itu berarti saya rela menyerahkan hidup saya demi orang lain. Itulah yang dilakukan Alllah di dalam Kristus bagi kita. “ Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita” (1Yoh.3:16).

Pada saat saya dengan sadar melakukan sesuatu  untuk Tuhan atau untuk orang lain yang mengorbankan diri saya sendiri, saya sedang menyatakan kasih. Kasih tidak mementingkan diri sendiri. Kasih mengorbankan diri sendiri, bertentangan dengan mementingkan diri sendiri. Kebanyakan dari kita tidak banyak mengenal kehidupan yang seperti itu-kehidupan yang dipinpin di jalan yang benar. Akan tetapi, bilamana seseorang mengalami sukacita melakukan sesuatu bagi sesama ia sudah mulai melangkah melewati pagar-dipimpin ke dalam salah satu padang  rumput hijau kepunyaan Allah.

  1. Dari pada menjadi sama dengan kebanyakan orang, saya bersedia dipilih, dipisahkan dari orang banyak.

Kebanyakan dari antara kita suka berkelompok seperti domba. Kita ingin masuk kesebuah kelompok.kita tak mau secara mencolok berbeda dari orang lain walau kita ingin berbeda dalam hal-hal kecil demi ego kita.

Tetapi Kristus menegaskan bahwa hanya ada sedikit orang yang dapat menerima jalan-Nya. Selain itu ditandai sebagai milik kepunyaan-Nya berarti mendapat kritik dan ejekan dari masyarakat  yang sinis. Kebanyakan dari antara kita tidak menghendaki hal tersebut. Sama seperti Dia—manusia yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan – mungkin begitu pula dengan kita. Kita dipanggil Allah bukan untuk menambah penderitaan  dan kesedihan masyarakat, tetapi kita mungkin dipanggil untuk menanggung beban orang lain ;kita dipanggil untuk turut masuk ke dalam penderitaan  orang lain. Apakah kita siap melakukannya?

  1. Daripada berkeras mempertahankan hak saya, saya rela melepaskannya demi kebaikan sesama.

Pada dasarnya itulah yang dimaksudkan Tuhan dengan menyangkal diri. Ini tidak mudah, juga tidak normal atau alamiah untuk dilakukan. Dalam suasana kasih di rumah pun kehendak pribadi cukup mencolok; penggunaan hak individu sangat jelas terlihat. Tetapi orang yang bersedia mengantongi keangkuhannya, yang bersedia duduk di bangku paling belakang, yang tidak menonjolkan diri, tanpa merasa direndahkan adalah orang yang sudah jauh masuk ke padang yang baru dengan Allah.

Orang yang mempunyai sikap seperti itu sudah terbebas dari belenggu harga diri. Sulit melukai perasaan orang seperti itu. Orang yang tidak merasa dirinya   lebih penting dari pada orang lain tidak dapat tersinggung perasaanya. Kehidupan Kristen seperti itu diwarnai kepuasan dan keceriaan.

  1. Daripada menjadi “bos”, saya rela menjadi yang terbelakang. Kalau keinginan untuk menonjolkan diri, untuk meninggikan diri, untuk menyenangkan diri sendiri sirna oleh adanya keinginan untuk semata-mata menyenangkan Tuhan dan menyenangkan sesama, maka ketegangan akan lenyap dari kehidupan sehari-hari.

Tanda seseorang yang jiwanya tenang adalah sirnanya keinginan untuk menentukan segalanya sendiri. Orang yang siap meletakkan kehidupan dan persoalannya di tangan Tuhan, sudah menemukan peristirahatan di padang rumput  yang segar setiap hari. Orang seperti itulah  yang mempunyai waktu dan tenaga untuk  membahagiakan orang lain.

  1. Dari pada mempersalahkan kehidupan dan selaalu bertanya-tanya, “mengapa?” saya bersedia menerima keadaan dengan bersyukur.

Manusia merasa berhak mempertanyakan penyebab segala yang terjadi pada mereka. Ada banyak contoh di mana hidup berisi kritikan melulu dan telaah atas keadaan dan hubungan seseorang. Kita mencari cari kambing hitam, penyebab petaka  yang menimpa kita. Sering kali kita cepat lupa akan berkat yang kita terima , tetapi lambat lupa kemalangan kita’

Akan tetapi, kalau seseorang benar-benar percaya bahwa persoalannya ada di tangan Tuhan, maka setiap peristiwa suka ataupun duka akan dipandang sebagai bagian dari rencana Allah. Tahu tanpa ragu bahwa ia melakukan segalanya demi kesejateraan kita akan membawa kita ke tempat yang damai, tentram penuh kekuatan  dalam menghadapi setiap keadaan.

  1. Daripada bersikeras melakukan kehendak diri sendiri, saya belajar bekerja sama dengan keinginan-Nya dan bertindak seturut kehendak-Nya.

Perlu diperhatikan semua langkah yang dipaparkan di sini berkaitan dengan kehendak.orang-orang kudus pada masa silam sudah berulang-ulang menegaskan bahwa Sembilan persepuluh dari  kekristenan, dari perkara menjadi pengikut sejati, menjadi murid yang penuh pengabdian, adalah soal kehendak.

Kalau seseorang mengizinkan kehendaaknya sendiri ditiadakan, menghapus si aku dalam mengambil keputusan, maka Salib sudah benar-benar diterapkan dalam kehidupannya. Itulah artinya memikul Salib setiap hari-pergi menuju kematian si aku- bukan lagi kehendakku yang terjadi, melainkan kehendak Tuhan.

  1. Daripada memilih kehendak saya sendiri, saya bersedia untuk mengikuti jalan Kristus: Melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Dasarnya sangat sederhana: ketaatan mutlak. Artinya saya melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Saya pergi ke mana Dia mengajak saya. Saya mengatakan apa yang diperintahkan-Nya. Saya bertindak dengan cara-Nya yang menurut Dia terbaik bagi saya dan terbaik bagi reputasi-Nya ( kalau saya pengikut-Nya)

Kebanyakan dari antara kita sudah mendapat banyak informasi tentang apa yang Tuhan kehendaki dari kita. Tetapi hanya sedikit yang mempunyai kehendak, niat dan keputusan untuk bertindak berdasarkan kehendak Tuhan dan menuruti instruksi-Nya. Tetapi mereka yang memutuskan untuk melakukan apa yang dikehendaki Tuhan berarti telah melangkah ke tanah yang baru yang akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Selain itu hal tersebut akan selamanya menyenangkan  hati Gembala yang baik.

Tuhan menghendaki agar kita semua terus melangkah  bersama Dia. Dia menghendaki kita terus berjalan bersama-Nya. Ia menghendaki-Nya bukan hanya demi kesejateraan kita saja, tetapi juga demi kesejahteraan orang lain, juga demi reputasiNya.

Mungkin ada yang berpikir Dia mengharapkan terlalu banyak dari kita. Mungkin ada yang merasa tuntutan itu terlalu drastis. Bahkan ada yang berpikir panggilan-Nya mustahil dilaksanakan.

Itu memang mustahil kalau kita harus meraih keberhasilan dengan bergantung pada keputusn kita sendiri atau pada disiplin diri sendiri. Namun kalau kita sungguh rindu untuk melakukan kehendak-Nya dan rindu dipimpin oleh-Nya, Ia membuat-nya mungkin oleh Roh-Nya yang diberika kepada kita yang taat ( Kis.5:32). “ Karena Allahlah  yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Fil.2:13)

Dari buku; Gembala yang baik, W Philip Keller

The Godly Women

The Godly Women

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.
1 Samuel 16:7

 Becoming Ester

Tiap-tiap kali seorang gadis mendapat giliran untuk masuk menghadap raja Ahasyweros, dan sebelumnya ia dirawat menurut peraturan bagi para perempuan selama dua belas bulan, sebab seluruh waktu itu digunakan untuk pemakaian wangi-wangian: enam bulan untuk memakai minyak mur dan enam bulan lagi untuk memakai minyak kasai serta lain-lain wangi-wangian perempuan. Lalu gadis itu masuk menghadap raja, dan segala apa yang dimintanya harus diberikan kepadanya untuk dibawa masuk dari balai perempuan ke dalam istana raja. Ester 2:12-13

Saya membayangkan jenis persiapan untuk seorang calon ratu Ester sebelum akhirnya dapat menghadap Raja Ahasyweros. Akankah  kita melakukan seperti itu 12 bulan melakukan treatmen kecantikan  sebelum bertemu pria impian kita? Mungkin tidak, tapi coba lagi dipikirkan  kemungkinannya. Persiapan satu tahun untuk satu tujuan. Waktu istimewa  untuk kecantikan, membuat persiapan pedidikan dan etika untuk mempekuat sifat dan membangun karakter.

Persiapan Ester mengingatkan saya akan waktu istimewa   antara menumbuhkan kerinduan  hati seorang gadis  untuk berbagi hidup  dengan pasangan  dan momen berjalan di altar. Untuk banyak hal waktu persiapan  ini adalah tidak lebih dari menanti. Wanita lajang sering melihat diri mereka sendiri duduk dilewati oleh jalannya kehidupan ini.  Atau duduk di tempat duduk ketika yang lain sedang bermain game, tidak berpikir  mereka membuang waktu yang paling penting  dalam hidup mereka, mereka merampok pelayan  Allah  yang kepadanya Allah  mempunyai kerinduan yang besar.

Seperti Ester yang disiapkan sebelum menjadi seorang ratu  di dunia, jadi seorang gadis yang  harus dipersiapkan sebelum dia dapat menaiki tahta yang paling penting dan sulit dalam panggilan kehidupan –Pernikahan dan mejadi Ibu. Ester harus belajar tentang kerajaan dan pemerintahan di mana dia akan berada. Harus belajar tentang tata krama kehidupan di istana, secara intelektual, emosi dan pengaruh spritual pada posisi yang tinggi. Sederhananya, Ester ditransformasi dari  seorang gadis menjadi ratu dipersiapkan sebelum dia dinobatkan dan melakukan perannya. Dengan cara yang sama seorang gadis Kristen  harus belajar tentang kerajaan sorga  sebelum Dia menyatu dengan seseorang yang Allah persiapkan untuknya.  Dia harus disiapkan secara intelektual, emosional dan spritual, bukan dengan cara kerajaan dalam istana tapi oleh Allah sendiri, Firman-Nya dan dengan wanita pengikut Kristus yang lain.

Menjadi single bukanlah membuang waktu  atau duduk dalam perjalanan, tapi itu adalah waktu  Allah secara spesial untuk wanita,  untuk membentuknya  seperti apa yang Allah inginkan. Jadi dia dapat dikhususkan  untuk suaminya kelak dan bukan hanya sekedar wajah yang cantik.

Ingatlah, in your singleness you are not the only one single, but your future husband is passing through the same stage as you. Bukankah suatu hal yang mengerikan akhirnya bertemu dengan pria yang akan menjadi suamimu dan menemukan dia menggunakan masa lajangnya  untuk melayani Allah dan mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjadi suami yang lebih baik untukmu. Sementara   kamu tidak  menggunakan kebebasan kamu selama lajang untuk melayani Tuhan, juga tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah bagimu? bukankah menyedihkan juga suamimu menghabiskan hari-hari sebagai pria single  yang berdoa setiap hari untuk hal yang kamu butuhkan dan pekerjaan Allah dalam hidupmu, sementara kamu tidak berdoa untuknya, tidak meresponi anugerah Allah yang telah diberikan bagimu  seperti dalam doa-doanya.

Hal yang menakjubkan ketika Allah memberkati seorang wanita dengan suami.  Seorang yang spesial “just perfect” untuk dia, dimana pria itu dengan hati-hati dan perhatian  dibentuk oleh Allah untuk dijadikan satu dengannya. Betapa bersukacitanya seorang wanita yang melihat kebelakang  dan mengingat bagaimana Allah menguatkannya dalam penantian dan Allah  setia memberkatinya. Kebahagiaan yang berlanjut  dengan sukacita yang lebih besar untuk wanita mengetahui  masa lajangnya adalah mencari Allah dan setia kepadaNya dalam rencanaNya. Wanita tidak berharap melarikan diri, tapi dengan hati yang rindu percaya kepada Allah  dan menunggu dalam anugerah  Allah yang berdaulat.

Menjadi wanita single bukanlah tragedi, tetapi jalan dunia sekali lagi menguji kekristenan dengan pemikiran yang salah tentang semua itu. Salah satu kebohongan terbesar dunia adalah  jika kamu tidak mempunyai “seseorang” atau tidak  “aktif mencari” ada yang salah denganmu. Kebohongan lainya adalah  wanita single harus dating atau aktif mencari seorang suami seperti belanja di mall. Kebohongan yang lebih kuat lagi seorang wanita single harus memberi perhatian lebih tanpa membeda-bedakan  jadi dia bisa  lebih “berpengalaman” dan akhirnya tau apa yang akan dilakukan  ketika menemukan pria pilihanya. Sahabatku, itu hanya kebohongan dan penghinaan kepada Allah yang mengatakan pengalaman adalah guru terbaik karena sebenarnya Allah lah guru terbaik dan motto dunia adalah “live and learn”,dan yang Alkitabiah adalah“learn and live”. Kamu tidak perlu berpengalaman  kamu hanya perlu tahu  apa yang Allah katakan dan mentaatinya. Kamu tidak perlu mencari pria pilihanmu tapi tunggulah pria pilihan Allah. Dan ketika dia datang   bukan pengalaman yang membuat pernikahanmu berjalan. Peliharalah kesucian, kemurnian dan kekudusan. Kita menyembunyikan wajah  kita dari  jalan dan pengalaman  dunia jahat  dan mengarahkan pandangan hanya pada hal yang telah Allah  tempatkan dalam jalan yang telah disiapkan-Nya untuk kita.

Pastinya Allah tau apa yang kamu butuhkan dan Dia bahkan tau  kerinduan hatimu lebih baik  dari dirimu sendiri.  Tuhan menyukai surprise. Dia tidak ingin kamu mencari suami. Dia ingin membawanya padamu dan mungkin saja diwaktu yang tidak kamu harapkan. Jika kamu tidak taat pada nasehat ini seperti kebanyakan wanita sebelum kamu,  memilih pasangan berdasarkan pandanganmu sendiri, kamu mungkin menemukan seseorang tapi seseorang yang kamu temukan itu bukanlah the right one.

Sebagai wanita, adalah kerinduan alami  untuk bersama dan membina hubungan dengan pria.  Ini dari Allah dan itu adalah baik.  Tapi pada waktu yang sama kita salah menyebutnya kematian  jika ini tidak terpenuhi. Membutuhkan orang lain sebagai suami  tidak seperti mengambil napas berikutnya.  Kamu bisa survive tanpa hubungan ini paling tidak sampai pekerjaan  Allah dalam kamu.  Ingatlah 1 Kor 10: 13  Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Ada dua alasan utama seseorang “putus asa” membutuhkan seseorang. Pertama,  karena mereka tidak tau Allah yang sebenarnya. Apakah Allah adalah Allah dari segala kenyamanan? Tidakkah Kristus, Allah yang memenuhi segala sesuatu dan   di manapun? Jadi mengapa kita komplein betapa kosong dan sepinya perasaan kita? Tidakkah Allah ada pada saat kita single  sehingga kita harus menemukan kehidupan kita di dalam Dia dan belajar menjadi utuh di dalam Dia? Jika kita mencari dengan menikah,  karena kita merasa  suami akan memenuhi kehidupan kita atau cara lain membuat melengkapi hidup kita, kita akan terluka dan kecewa dalam pernikahan. Tak seorangpun,  semirip apapun dia dengan Kristus  dapat mengambil tempat Allah dalam hidup kita, berpikir seperti itu adalah berhala dalam hidup kita.  Jika kita tidak diisi oleh Allah sekarang dan menjadi penuh di dalam keberadaan Kristus, maka pernikahan dalam sorga  pun tidak mengganti kekosongan.

Alasan kedua, keputusasaan membutuhkan seseorang  di dalam hidup adalah kehidupan kita yang egois. Ketika kita butuh seseorang untuk merasa dicintai, atau ketika kita butuh seseorang  sehingga perasaan sepi kita hilang, jadi kita ingin menikah dengan alasan yang salah. Menikah bukanlah mencari kesempatan untuk memenuhi kebutuhan, tapi kesempatan memenuhi kebutuhan orang lain.  Jika kita tidak belajar meletakkan kebutuhan kita kepada Allah, kita mungkin menaruhnya kepada suami   dan kita tidak peduli kebutuhannya. Saya mengenal seorang wanita kristen  menghabiskan hari-harinya untuk apa yang dia butuhkan  dan terus mengeluh mengapa Allah  tidak membawa seseorang dalam hidupnya. Tetapi mengapa Allah harus mempercayakan pria-anak Tuhan- untuk wanita yang menghabiskan hari-harinya untuk dirinya sendiri  dan segala yang dibutuhkan,  dan tidak menghabiskan masa lajangnya untuk melayani Allah dan mempersiapkan dirinya untuk tujuan Allah? Wanita seperti inikah yang akan diberikan untuk seorang anak Tuhan!

Sahabatku, menjadi single, sama seperti menikah harus menyadari  sangat spesial  dan nikmatnya waktu  dalam providensia Allah. Itu bukanlah hanya ikut arus atau petaka  yang coba dihindari. Menjadi single adalah waktunya belajar tentang Allah dan diri sendiri, waktunya untuk mengalami siapakah kita dalam Kristus dan bertumbuh semakin menyerupai Kristus. Waktunya untuk melakukan  pekerjaan  dan melibatkan diri untuk melayani sesama. Menjadi  Single mempunyai kekuatan magic tersendiri untuk dinikmati pada waktunya. Karena ketika itu berlalu tidak mungkin kembali. Tidak ada alasan untuk diam dan sedih.

Setiap musim dalam hidup kita mempunyai keindahan dan keajaiban tersendiri. Doaku semoga setiap wanita single semoga dapat menikmati waktunya dari pada tertipu oleh dunia. Semoga bergantung  dan tidak memilih hal apapun lebih dari kehendak Allah. Menantilah dengan sabar dari Allah  yang memberikan segala yang baik dan hadiah sempurna. Seperti Ester, menggunakan waktu berdasarkan himat dari Allah yang membuatnya  cantik dari dalam dan di luar.

 based on Charo and Paul Washer